Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Untuk Kita Renungkan

Adakalanya...Tanpa kita sadari, kita semakin jauh dari Allah...Kita sibuk dengan urusan dunia ...Kita sujud pun,tanpa khusyuk kepada Yang Esa...tapi Allah senantiasa memperhatikan kita ..

Adakalanya...tanpa kita sadari, kita membina dinding antara kita dan Allah... Maksiat dan dosa kita buat.. sehingga terbina dinding untuk kita mendapatkan barakah dan rahmat Allah...

Adakalanya...kita terasa Allah sangat mencintai kita...hingga kita lupa untuk merasa takut dan harap kepada Allah...itulah cinta zindik...kita terus melakukan perkara terlarang tetapi masih merasakan Allah mencintai kita

Adakalanya...kita mau meminta pertolongan Allah...tapi,sebagian tawakkal kita adalah kepada makhlukNya...dan hanya tinggal sebagian lagi tawakal kepada Allah...bukankah cukup Allah sebagai penolong?

Adakalanya...kita sangat inginkan sesuatu..kita coba sedaya upaya..tapi kita lupa untuk meminta dari Pemilik segala benda...

Ya Allah...bantulah kami untuk mengingati Mu...dan untuk mensyukuri nikmat Mu...dan memperbagus ibadah kepada Mu..


INSYAFLAH.....
perjalanan ini masih jauh
dalam masa, mencari arti nilai yang tiada penyudah
usah ego dibuai lena
kenikmatan dunia sementara tanpa memikirkan
siapa diri dan dimana kesudahannya

di manakah fikiran yang dibanggakan?
hanya memikirkan kebahagiaan dunia yang sementara
usah riya'
suatu hari kelak
dihitung amalan kebaikan
kejahatan akan diadili

perjalanan ini sementara
Atas hak pencipta yang disanjung
wajib disembah Pencipta alam Allah SWT
menyusun kehidupan sementara
pasti musnah suatu hari kelak
Atas kehendak Nya

Akan diadili tiada yang dikasihi
mengikuti amalan melainkan dikerjakan, siksaan ditempuh
tiada pertolongan melainkan amal ibadah
siksaanNya sebenarNya benar

perjalanan tiada arti lagi
lena tanpa bekal
Azab ditempuh tidak mengenal pangkat
derajat, saudara dan sahabat
rebah menempuh siksaan melainkan amalan
menjadi pendinding
Insaaflah....


BERCERMIN.

kepada semua...
yang tak pernah bersuara tidak berarti dangkal ilmunya
seperti ubi, diam-diam berisi
yang mahir berkata-kata tidak semesti tinggi ilmunya
seperti gendang kosong, sana-sini nyaring berbunyi
yang tahu membedakan antara kaca dan intan
dialah yang layak digelar cendikia walau tiada ijazah
yang hanyut diarus puji hanya tampil karena nama
seperti ayam bertelur sebji, riuh sekampung
yang sadar pada kebenaran tidak mengharap suatu sanjungan
bagai penyu tahu mengeji sebenarnya iri hati atau
mungkin terlupa akan kekurangan diri
yang gemar memberi nasehat perangai sendiri masih berkarat, lihat ke dalam cermin diri!
dan yang senantiasa bersikap sinis menganggap orang lain pula hipokrit
sudakah meninjau diri sendiri yang nyata, kita semua sama, tiada yang sempurna!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: